• Kesehatan
  • Inspirasi
  • Indeks
  • Kesehatan
  • Inspirasi
  • Indeks

Tim Kesehatan Kontingen DKI Jakarta PON Papua XX/2021 Lakukan Tes RDT. Apa Tujuannya?

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Share on print
IMG-20210914-WA0013
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email
Share on print

TOPIK TERKINI

Thepost.id- JAKARTA – Ketua Bidang Kesehatan Kontingen DKI Jakarta PON Papua, Dr.dr. Junaidi, Sp.KO, menyampaikan, Tim kesehatan Kontingen DKI Jakarta akan melakukan Rapid Tes Diagnostic (RDT) ke seluruh anggota kontingen DKI Jakarta pada PON Papua XX/2021.

“Akan dilakukan Rapid   Diagnostic Test (RDT) malaria kepada seluruh anggota kontingen DKI Jakarta  setibanya di bandara Soekarno-Hatta oleh kantor kesehatan pelabuhan (KKP) Soekarno-Hatta”,ujar ketua tim kesehatan Kontingen DKI Jakarta itu.

BACA JUGA

Menurut Dosen senior Universitas Negeri Jakarta (UNJ) tersebut menjelaskan, Rapid Diagnostic Tes (RDT) dilakukan untuk memgetahui sejauh mana potensi malaria masuk ke DKI Jakarta yang bebas dari penyakit malaria.

“Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah ada potensi masuknya penyakit malaria ke ibu kota, karena Jakarta merupakan daerah bebas penyakit malaria”,jelas Dr. dr. Junaidi, Sp.K.O saat ditemui wartawan.

Menurut Dokter Kepala Indonesia Mixed Martial One Pride TV ONE itu, juga memberikan himbauan kepada seluruh anggota kontingen DKI Jakarta untuk melakukan profilaksis malaria dengan mengomsumsi doksisiklin.

“Agar supaya hasil RDT semua anggota kontingen negatif maka dihimbaukan kepada semua anggota kontingen untuk melakukan profilaksis malaria dengan mengonsumsi obat doksisiklin”,jelas dokter spesialis Ilmu Kesehatan Olahraga itu.

Selanjutnya, Wakil ketua bidang kesehatan kontingen DKI Jakarta pada PON Papua XX/2021, dr. Monica Susanto, Sp.K.O juga menambahkan, untuk pencegahan penyakit malaria dilakukan dengan meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko malaria, mencegah gigitan nyamuk, dan profilaksis dengan konsumsi obat.

“Pencegahan gigitan nyamuk dapat dilakukan dengan menutup kulit dengan celana panjang dan baju berlengan panjang, tidur menggunakan kelambu, serta memakai krim pelindung anti nyamuk”,jelasnya.

Lebih jauh, dr.Monica juga menjelaskan mengenai cara dan dosis pemakaian Profilaksis.

“Profilaksis dapat dilakukan dengan minum obat Doksisiklin dosis 100 mg sebanyak 1x/hari (setelah makan). Obat diminum 2 hari sebelum pergi ke Papua, selama berada di Papua sampai 4 minggu setelah kembali pulang ke Jakarta”,terangnya.

Adapun Efek samping Doksisiklin berupa mual, muntah, nyeri ulu hati, sakit perut, diare ringan, sakit kepala, gatal dan ruam kulit, keputihan atau gatal pada vagina.

Monica mengatakan, Pemberian obat ini juga perlu menjadi perhatian khusus  bagi mereka yang menderita penyakit hati, penyakit  ginjal, penyakit kelamin, menderita kelemahan otot (myasthenia gravis), Lupus, menderita asma dan bagi mereka yang mengonsumsi obat pengencer darah.

Selain itu, Obat ini menjadi kontraindikasi pada pasien dengan riwayat alergi Doksisiklin atau antibiotik tetrasiklin lainnya dan tidak boleh diberikan pada ibu hamil, ibu menyusui dan anak dibawah umur 8 tahun dan tidak boleh diberikan lebih dari 6 bulan.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email
Share on print

TERPOPULER

ADVERTISEMENT

ARTIKEL TERKAIT

LAINNYA

ADVERTISEMENT

Selamat Datang kembali!

Masuk ke akun

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Tambahkan Daftar Putar Baru