• Opini
  • Inspirasi
  • Indeks
  • Opini
  • Inspirasi
  • Indeks

Menggali Makna Dibalik Bencana

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Share on print
IMG-20210708-WA0127
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email
Share on print

TOPIK TERKINI

BACA JUGA

Oleh Sutrisno (Ketua Umum HmI Cabang Pers. Bantaeng)
“Kesejahteraaan memberikan peringatan, sedangkan bencana memberi nasihat”
(Socrates)
Thepost.id- Kesejahteraan dan bencana adalah dua hal berbeda yang tak pernah hilang dalam setiap hela napas kehidupan manusia. Begitulah yang dialami oleh bangsa Indonesia saat ini terkhusus masyarakat Kabupaten Bantaeng. Pandemi covid 19 belum usai kota kecil ini kembali ditimpa bencana banjir.
Baik covid 19 maupun banjir yang melanda beberapa hari terakhir telah menjadi duka tersendiri bagi kita semua. Kejadian ini tentu terjadi bukan tanpa kausal bukan pula hadir tanpa menyiratkan pesan-pesan kehidupan bagi manusia di alam semesta ini.
Berbeda dengan banjir yang hampir tiap tahun melanda bumi, wabah penyakit berskala besar seperti covid 19 mugkin merupakan hal yang asing bagi penduduk bumi, oleh karenanya kita tentu butuh sedikit tinjauan historis tentang wabah yang pernah melanda bumi manusia, salah satunya adalah wabah pes yang dijuluki Black Death pada abad ke 14.
Penyakit pes yang menjangkiti manusia waktu itu menyebabkan kematian hingga ratusan juta jiwa, hingga peristiwa ini dijuluki kematian hitam (black death). Kita tentu sepakat bahwa waktu dan peristiwa tidak mungkin terjadi secara berulang (sirkuler). Akan tetapi fenomena ini hampir memiliki kesamaan dengan dengan wabah pes pada abad ke 14 itu.
Dalam catatan sejarah, wabah pes konon disebarkan melalui kutu yang hidup pada di tikus China yang disebarkan oleh para saudagar yang menyusuri jalur sutra, yang merupakan urat nadi perdagangan dikawasan trans Asia. Rombongan saudagar yang berasal dari Genoa itu rupanya ditumpangi oleh tikus-tikus yang dalam sekejap menyebarkan kutu-kutu pembawa wabah ke seluruh penjuru kota Tana dan akhirnya keseluruh kawasan mediterania tak luput dari serangannya.
Memasuki awal Tahun 1347 gelombang penyakit ini sudah menyerang konstantinopel di Turki. Pada musim semi 1348 wabah penyakit ini sudah meneror Prancis, Afrika Utara hingga Italia. Wabah itu menyebabkan kematian hampir separuh penduduk dari daerah yang disasarnya. Adalah Daron Acemoglu bersama James A. Robinson dua dari sekian banyak penulis yang telah mencatat peristiwa ini dalam sebuah buku yang berjudul Mengapa Negara Gagal.
Dua fenomena ini telah mendorong manusia untuk mengeluarkan asumsi-asumsi berdasarkan sudut pandang dan kerangka pikir yang berbeda-beda mulai dari sudut pandang teologis, ekologis hingga politis dan masih banyak lagi. Memang benar bahwa segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini tidak terlepas dari hukum kausalitas (sebab akibat) yang melibatkan Tuhan, alam dan manusia sebagai aktor utama. Lalu, seperti apa peran manusia sebagai satu-satunya mahluk yang dikaruniai akal sebagai salah satu aktor utama dari fenomena ini?
Ibnu Khaldun seorang sejarawan muslim asal Tunisia dalam salah satu karya monumentalnya “Mukaddimah” menjelaskan bahwa manusia adalah satu-satunya mahluk ciptaan Tuhan yang dianugerahi akal untuk menampung segala jenis ilmu pengetahuan agar mampu mengelola alam secara bijak. Akan tetapi kita tidak boleh lupa selain akal, dalam diri manusia juga terdapat nafsu yang bersemayam dan memiliki potensi besar untuk menjadi pemantik sifat serakah manusia yang berujung pada tindakan eksploitatif terhadap alam.
Aktivitas manusia yang bersifat eksploitatif inilah yang mendapat legitimasi filosofis dari pandangan dunia modern yang antroposentris. Filsafat antroposentris telah mengantarkan manusia memiliki pandangan yang terlalu mengobyektifkan alam dan beranggapan bahwa manusialah satu-satunya mahluk yang berkesadaran sehingga menganggap sesuatu diluar dirinya tidak berkesadaran dan hadir semat-mata untuk dirinya. Hal tidak hanya memunculkan pola pikir dan perilaku mengobyekkan alam tetapi juga berujung pada kesewenang-wenangan manusia terhadap alam (eksploitasi).
Dari sudut pandang lain fenomenologi lingkungan (ecofonomenology) hadir sebagai suatu aliran filsafat untuk meredam paham manusia yang cenderung antroposentris dan membuktikan subyektivitas alam sebagai suatu entitas. Aliran filsafat ini coba untuk membantah paradigma dan tingkah laku manusia yang memandang alam sebagai entitas mekanis non-rasional yang boleh dikuasai dan dieksploitasi.
Pengingkaran manusia terhadap subyektivitas alam membuat manusia terlalu memandang alam sebagai sesuatu yang bisa dieksploitasi kapan saja, tak ubahnya seperti sebuah property untuk memuaskan hawa nafsu manusia. Hal ini telah membuat manusia gagal dalam membaca bahasa alam sebagai suatu subjek, kapan alam bermurah hati, sabar dan kapan alam resah dan murka.
Dari benturan dua pandangan filsafat diatas mungkin saya adalah salah satu dari sebagian orang yang sepakat dengan pandangan filsafat fenomenologi lingkungan namun sedikit transenden, bahwa dalam siklus kehidupan ini Tuhan, alam dan manusia bukanlah fragmen yang terpisah melainkan sebagai suatu kesatuan, tanpa menafikkan kedudukan manusia sebagai playmaker utama dalam setiap fenomena yang terjadi dimuka bumi ini.
Fenomena bencana banjir dan covid 19 juga mesti jadikan sebagai suatu bahan refleksi bagaimana cara kita hidup dibumi ini. Bencana ini memperlihatkan pada kita bahwa semua diri terkoneksi dengan sesuatu yang lebih besar dan lebih tinggi. Di muka bumi ini bencana bisa terjadi pada semua bangsa, segala agama, semua klaim kebenaran semua ras tanpa diskriminasi.
Demikianlah setiap peristiwa mengingatkan kita agar senantiasa mawas diri dan waspada. Bahwa semua manusia adalah ahli waris jagad yang sama dengan hulu mata air spiritualitas yang sama. Kebahagiaan hidup bersama akan terengkuh manakala kita bisa menyalakan cahaya iman dan pengetahuan sebagai pelita jiwa, dengan membangun relasi harmonis dengan Sang Pencipta, sesama manusia dan alam semesta. Semua relasi itu bisa dihidupi manakala dipusat jiwa kita terpancar cahaya cinta.

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email
Share on print

TERPOPULER

ADVERTISEMENT

ARTIKEL TERKAIT

LAINNYA

ADVERTISEMENT

Selamat Datang kembali!

Masuk ke akun

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Tambahkan Daftar Putar Baru